<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Oase Kalbu</title>
	<atom:link href="http://garini.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://garini.wordpress.com</link>
	<description>Inspirasi dan curahan hati dalam untai kata, penghilang dahaga jiwa</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 00:33:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='garini.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Oase Kalbu</title>
		<link>http://garini.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://garini.wordpress.com/osd.xml" title="Oase Kalbu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://garini.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Singgasana Rindu</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2012/01/29/singgasana-rindu/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2012/01/29/singgasana-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 00:32:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Januari beranjak mataku masih terpaku pada jejak yang terukir di dedaun kenangan lalu angin mengantarnya ke singgasana kerinduan yang bermukim di hatimu&#8230; ( Riga) Bandung, 29 Januari 2012<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=441&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Januari beranjak<br />
mataku masih terpaku pada jejak<br />
yang terukir di dedaun kenangan<br />
lalu angin mengantarnya ke singgasana kerinduan<br />
yang bermukim di hatimu&#8230;<br />
( Riga)<br />
Bandung, 29 Januari 2012</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=441&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2012/01/29/singgasana-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pulang, Menziarahi Kenangan</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/12/27/pulang-menziarahi-kenangan/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/12/27/pulang-menziarahi-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 09:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/2011/12/27/pulang-menziarahi-kenangan/</guid>
		<description><![CDATA[(Sebuah catatan akhir tahun)   Aku pulang karena merindukan kampung; merindukan ayah dan ibu, saudara-saudara, dan para sahabat. Bagai sebuah kaleidoskop, berbagai kilasan kenangan berlompatan seperti ingin disuburkan kembali. Setelah dua tahun lebih tidak berkunjung ke sana, mendapat undangan pernikahan adalah satu alasan yang tepat untuk pulang kampung memenuhi rasa rinduku. Seorang saudaraku melaksanakan acara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=442&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>(Sebuah catatan akhir tahun)</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Aku pulang karena merindukan kampung; merindukan ayah dan ibu, saudara-saudara, dan para sahabat. Bagai sebuah kaleidoskop, berbagai kilasan kenangan berlompatan seperti ingin disuburkan kembali. Setelah dua tahun lebih tidak berkunjung ke sana, mendapat undangan pernikahan adalah satu alasan yang tepat untuk pulang kampung memenuhi rasa rinduku. Seorang saudaraku melaksanakan acara “ngunduh mantu” karena  anaknya  baru saja beberapa hari menikah. Aku berharap di pesta pernikahan nanti akan bertemu dengan saudara dan teman-teman lama. Kunikmati perjalanan Bandung – Majalengka ini, hanya berdua dengan suamiku, seperti sedang mengobati setiap goresan luka, perihnya mengembun di kelopak mata&#8230;</p>
<p>Di daerah Sumedang, sepanjang jalan mulai dari Jatinangor, Tanjungsari, Cimalaka, hingga Sumedang kota, akan banyak ditemukan pedagang makanan khas kota kecil itu, seperti ubi bakar Cilembu yang manis seperti mengandung madu. Di daerah Cimalaka selalu kita temukan para “WTS” &#8230;Wanita Tukang Salak dan Wanita Tukang Sawo kecik yang besar-besar&#8230;:) Sawo kecik rasanya unik seperti ubi rebus dengan warna kuning keemasan. Jika sudah mendekati  arah kota Sumedang, akan banyak dijual tahu goreng yang dimakan dengan saus kecap disertai ulekan cabe rawit dan sedikit asam. Dulu ayah suka pesan tahu Sumedang kalau kami pulang ke Kadipaten, atau membeli beberapa potong saja untuk camilan agar tidak mengantuk di jalan.</p>
<p>Kurang lebih dua setengah jam perjalanan, kami sampai di Kadipaten. Kadipaten, yang dulu kota kecil ini pernah dijuluki “Singapur yang tak pernah tidur”, karena orang-orangnya selalu sibuk dalam aktivitas mencari penghidupan. Di sini masa kecilku tumbuh dalam lingkungan yang hiruk pikuk suara Pabrik Gula dan jalan raya utama. Udara Kadipaten sangat panas dan berdebu, terutama rumah kami yang kena polusi dari PG dan jalan raya.  Tetapi kami betah berada di sini karena memiliki keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang.</p>
<p>Persis di sini, di depan pintu gerbang Pabrik Gula, adalah rumah sederhana tempat kami sekeluarga berjuang, bercanda, menangis dalam suka dan duka. Kini, rumah itu sudah berubah total. Ooh&#8230;di mana kerimbunan bunga-bunga yang ditanam ayah, bougenvile ungu, melati putih, bunga gladiol merah&#8230;.Pohon sarikaya dan belimbing yang melindungi rumah dari keramaian jalan?? Di mana suara teriakan ibu yang memanggil anak-anaknya untuk belajar? Ke mana suara ramai anak-anak yang bertengkar untuk memperebutkan perhatian ibu? Semua jejak itu hilang bagai angin lalu&#8230;</p>
<p>Pabrik gula sudah berganti rupa. Kesibukan orang-orang telah berganti wajah. Tak ada lagi suara sirine yang memanggil para pekerja, ataupun suara kereta setum pengangkut tebu. Melainkan suara-suara digital dari game komputer dan lalu lalang orang-orang yang berbelanja di sebuah swalayan besar. Bahkan rumah-rumah di depan pabrik merubah wujudnya menjadi tempat perdagangan produk atau jasa, seperti restoran, tambal ban, pembuat kusen, pembuat mebel, makanan kecil atau minuman seperti “air legen” atau sadapan daun lontar yang manis.</p>
<p>Oh&#8230;, Kadipatenku kini! Kurangkai serpih-serpih kenangan yang hanya berputar di dalam benak saja. Karena di tempat ini sudah tak kutemukan jejak yang bisa menyambungkan memoriku dengan masa-masa indah itu. Kurasakan ada ruang yang tiba-tiba kosong&#8230;, menjadi tempat beresonansi dari gaung kerinduan yang terus berdenting dalam kenangan.</p>
<p>Sedikit menanjak, kami berbelok ke arah kanan memasuki jalan kecil yang hanya cukup untuk sebuah badan mobil saja. Di sebelah kanan ada sebuah rumah bercat hijau tua, mengingatkanku kepada seorang guru bahasa Sunda di SMP, Bu Ipun. Berbicara dengannya harus selalu berhati-hati dengan undak-usuk bahasa Sunda yang sangat teratur. Darinyalah aku belajar berbahasa dengan lemah lembut dan sopan santun.  Tetapi kini rumah hijau itu sepi&#8230;hanya bayangan bu Ipun yang bermain dalam ingatanku.</p>
<p>Di sebelah kiri aku tertegun pada sebuah rumah yang diteduhi berbagai tanaman hias dan bunga warna warni. Rumah ini mengingatkanku akan keramahan seorang guru TK, ibu Bandiyah, yang dulu selalu menyapa lebih dulu kalau kami bertemu di manapun dengan keramahan seorang ibu. Hhmm&#8230;aku sangat merindukannya! Tetapi di manakah engkau sekarang, guruku sayang?</p>
<p>Mobil berhenti di sebuah jalan buntu yang ujungnya adalah halaman rumah yang luas ditumbuhi beberapa pohon mangga. Kemudian berjalan melalui jalan setapak menuju pemakaman umum di bawah kerimbunan pohon bambu dan pohon kiara. Dua batu nisan yang berdampingan seolah sedang menunggu kedatangan kami penuh rindu&#8230;</p>
<p>“Ibu&#8230;.ini aku datang membawa sekedar do’a dan kembang!” Kukirim al Fatihah, al Ikhlas, dan Falaq bi Nas yang berbungkus kerinduan yang mendesak di dada. Lalu puncak rindu itu membentuk butir-butir airmata yang paling bening mengalir di pipi.</p>
<p>“Ayah&#8230;, kadang aku tak percaya bahwa dirimu begitu tegar terbaring di bawah naungan batu nisan berpeluk gundukan tanah merah tanpa lentera. Hanya inikah rumahmu sekarang? Bukan lagi rumah yang benderang dengan canda dan gelak tawa&#8230; Apakah do’aku cukup menjadi penerang bagimu di sana, Yah?”. Kekhusuan do’a kami disambut oleh suara-suara gemerisik daunan bambu yang ditiup angin dan lengkingan burung incuing yang mengiba di pohon kiara. Betapa sunyi tempat istirahatmu kini, ibu&#8230;ayah&#8230;</p>
<p>Pikiranku mengembara dalam keheningan suasana itu. Mesin waktu mengajakku kembali ke masa-masa bahagia kami sekeluarga. Kerinduan ini selalu membawa ingatanku ke masa-masa kecil dulu. Masa-masa bahagia keluarga, ketika ibu merupakan energi yang menggerakkan kehidupan keluarga. Tangan-tangannya adalah mesin penggerak agar segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Makanan sederhana yang selalu siap saji, pakaian yang selalu siap pakai&#8230;bahkan senyumannya adalah do’a yang mengantar keberangkatan suami dan anak-anaknya. Jika tiba hari libur, kami semua berbagi kerja dan ibu membuatkan makanan dari singkong atau ubi yang membuat kami ceria dalam kemesraan keluarga yang sesungguhnya.</p>
<p>Ayah meninggal 16 tahun lebih dulu daripada ibu. Ayah sering sakit sesak nafas, tetapi beliau paling anti berobat ke dokter. Ayah lebih suka mengobati sakitnya dengan jamu-jamuan daripada obat dari dokter. Karena sudah semakin tua dan penyakitnya tak sembuh juga, maka ibu memaksanya berobat ke dokter terbaik di Kadipaten. Dengan rasa enggan akhirnya ayah mau juga ke dokter. Namun malang sekali, baru saja sekali minum obatnya, ayah seperti mengalami keracunan obat. Tengah malam tubuhnya menggigil hebat dan berkeringat dingin hingga kuyup bajunya. Nafasnya tampak sangat sesak seperti sedang menyeret beban yang amat berat, ditambah debaran jantungnya keras dan tak beraturan. Seluruh tubuhnya tak bisa menahan rasa dingin yang luar biasa hingga terdengar suara gemelutuk giginya. Diberi kompres panaspun tetap tak mengurangi penderitaannya. Seperti mendapat hidayah, ibu tiba-tiba terilhami untuk memberinya segelas susu hangat. Barulah secara perlahan semua penderitaan itu berangsur ringan.</p>
<p>Keesokan harinya beliau sudah beraktifitas lagi seperti tidak terjadi apa-apa. Hanya sejak saat itu ayah tampak lebih banyak merenung dan lebih religius. Kami merasakan itu bukan kebiasaan ayah yang sebenarnya. Seperti ada sesuatu yang hilang dari ayah, entah apa. Apalagi ketika melihat wajahnya, ayah sepertinya sangat tampan dan bercahaya. Dari hatiku yang paling dalam, aku merasa sangat khawatir, bahkan lebih cenderung ada ketakutan yang tak bisa digambarkan. Dalam setiap sholat aku mendo’akan kesembuhan untuknya, tetapi tetap rasa ketakutan itu menyergapku. Aku tak punya pilihan, rasa khawatir itu harus disisihkan, meskipun ayah masih kangen kepada ketiga cucunya, kami harus kembali ke Bandung, karena anak-anakku harus masuk sekolah.</p>
<p>Seminggu kemudian, kami bagai disambar petir, datanglah berita itu. Ayah meninggal&#8230;! Ternyata diam-diam ayah meminum kembali obat yang diberikan dokter itu, dan kali ini benar-benar tidak tertolong. Seperti sebuah jawaban yang menggelegar dari semua ketakutanku selama ini. Apalagi bagi ibu, yang sudah bersama selama 33 tahun. Ibu pasti sudah merasakan segala macam perasaan itu sejak jauh hari, karenanya ibu ingin mengobati ayah ke dokter. Tetapi justru itulah jalan yang ditunjukkan Tuhan menuju kepastian takdir, kematian&#8230; Tak ada yang perlu disesali ketika Tuhan sudah menentukan jalan seseorang, selain membiarkan tangan-tangan takdir yang basah dengan do’a merengkuh tubuh sang nasib ke dalam pelukanmu, karena di situlah letak keberpasrahanmu kepada-Nya.</p>
<p>Dulu, ibuku hampir tak pernah sakit. Kesehatannya luar biasa terjaga hanya dengan melakukan  hal-hal sederhana. Seperti bangun pagi sebelum didahului terbitnya matahari. Melakukan pekerjaan rumah tangga dengan rasa suka, tanpa rasa “aral” ataupun amarah. Sehingga apapun yang dikerjakannya selalu menghasilkan yang terbaik. Makanan yang dimasaknya selalu enak. Pakaian yang dijahitnya selalu rapi dan pas dipakai pemiliknya. Barangkali itu pulalah yang membuat ibuku selalu tampak  segar dan awet muda.</p>
<p>Sampai pada suatu saat ibu benar-benar sakit dan harus dioperasi. Kami membawanya ke sebuah rumah sakit yang bagus di Bandung agar bisa ditunggui setiap hari selama masa perawatannya. Operasi berjalan lancar, tetapi karena kondisi yang sudah tua, 67 tahun, maka fungsi organ-organ tubuhnya sudah banyak berkurang. Akibat operasi itu fungsi jantung, paru-paru, pangkreas dan ginjal terganggu. Selama empatpuluhdua hari dirawat di ICU dengan berbagai alat penyambung hidup dipasang ke tubuhnya. Di hidung ada selang oksigen dan selang penyalur makanan hingga ke lambung; di bahunya dibuat lubang yang dimasuki berbagai macam selang obat lassic; di pinggang dan bawah perut ada pula selang untuk urin dan entah apa lagi&#8230;.ahh&#8230;menyedihkan sekali melihatnya seperti manusia setengah robot!</p>
<p>Kematian ibu adalah pembebasannya dari segala penderitaan di tubuhnya. Kami memiliki tubuhnya. Kami berusaha sekuat tenaga agar ibu tetap nyaman dengan segala peralatan itu, agar semua organ tubuhnya tetap aktif memompakan udara segar, keadaan darah yang stabil, dan rasa sakit akibat efek samping dari pasca operasi itu. Namun sang tubuh tetap tak bisa mengikat ruhnya agar menetap di sana, tidak pula peralatan itu. Kematianlah yang lebih  berkuasa memisahkan tubuh dan ruh kemudian mengembalikannya kepada Sang Pemiliknya&#8230;</p>
<p>“Ayuuk, sayang&#8230;kita lanjutkan perjalanan!” sapaan dan sentuhan lembut di pundak membuyarkanku dari lamunan. Kuusap airmata yang tiba-tiba deras mengalir di pipi sambil kembali ke mobil. Ketika ada orang yang memperhatikan, kami baru sadar bahwa kami ziarah ke kuburan dengan berpakaian batik dan kebaya, karena kami mau menghadiri pesta pernikahan keponakan di Majalengka&#8230;atau juga barangkali dia melihat make up yang berantakan di wajahku sehabis menangis&#8230;..Hiikkss jadi maluuu! Sesampainya di mobil kuperbaiki dengan menambahkan sedikit bedak di sekitar mata dan pipi.</p>
<p>Upacara adat nikah baru saja usai, sang pengantin sedang melakukan upacara sungkeman kepada orangtuanya. Beberapa orang saudara langsung menyambut kedatangan kami dengan wajah sumringah. Sejenak kami menjadi pusat perhatian para anggota keluarga. Tiba-tiba di antara mereka ada seorang wanita cantik berkulit putih yang ikut menyambutku dengan sangat ramah dan akrab.</p>
<p>“Haiiii&#8230;ini Rini, khaann?? Aduuhh..senangnya bisa ketemu di sini&#8230;pangling lho Rin!” sapanya dengan gembira.</p>
<p>“Eehh&#8230;maaf sebentar, saya ingat sekali dengan wajahmu, tapi maaf kalau saya lupa nama&#8230;maklum sudah tigapuluh tahun gak ketemu&#8230;,” aku mencairkan rasa bersalahku sambil ketawa.</p>
<p>“Ayoo&#8230;coba tebak, siapa aku?” Katanya dengan wajah bercanda. Aahh&#8230;ingin sekali kuingat namanya! Memoriku bekerja keras mengaduk-aduk ingatan untuk mengklopkan wajah cantik itu dengan sebuah nama yang sesuai. Namun tetap tak kutemukan, barangkali ingatanku terlalu buruk akibat faktor “U” (usia). Tapi untunglah, seorang teman lain datang menemui kami. Tiga tahun yang lalu kami pernah bertemu dan sekarang kami saling menyapa di Facebook.</p>
<p>“Haaiii&#8230;Rien! Waah&#8230;hebat euy&#8230;sekarang lebih langsing daripada tiga tahun lalu. Diapain tuuh..?” Aku menyambutnya dengan pelukan hangat.</p>
<p>“Idiihh&#8230;teh Manti bisa aja!” bukannya merasa bangga dikatakan seperti itu, aku malah merasa tersindir karena setelah ini berat badanku tak bisa lebih turun lagi. Angkanya menetap di situ saja setelah turun lima kilogram.</p>
<p>“Teh Manti, yang saya tahu dia dulu kan tubuhnya “jangkis” alias jangkung ipis.” kata si cantik.</p>
<p>“Jiaaahhh&#8230;Ati! Itu mah zaman SMA dulu atuuh&#8230; Masa siih disamakan dengan masa remaja&#8230; Waktu kami ketemu tiga tahun yang lalu, dia gemuk beneran&#8230;.sama dengan aku sekarang! Ehh.., ternyata dia bisa lebih kecil&#8230;bikin aku iri iihh!” Kami ketawa mendengar celotehnya. Dan fokusku bukan itu&#8230;, ternyata dia bernama ATI..! Benar, perempuan cantik itu Ati yang rumahnya dekat Girilawungan itu! Ahhaa&#8230;I got it! Si cantik itu dulu termasuk bunga kampus yang langsung dipetik oleh pecintanya. Kloopp&#8230;.pikiranku mulai nyambung dengan kenangan-kenangan tentang si cantik Ati.</p>
<p>Obrolan kami bertiga semakin akrab, sedangkan suamiku sedang asik bercanda dengan saudara-saudaranya. Beberapa lama kemudian keduanya menghilang ditelan kerumunan para undangan. Kutemui para bibi dan saudara-saudaraku yang berpakaian batik dan kebaya yang serupa sebagai tanda panitia hajatan. Maka meluncurlah obrolan yang khas keluarga, seperti basa basi yang sebenarnya menumpahkan kerinduan setelah lama tak bertemu.</p>
<p>Aku tertegun sejenak di tengah obrolan, karena sekilas aku melihat dua orang teman lamaku juga datang. Kutemui mereka dan kuperkenalkan kepada suamiku: kang Yudi dan istrinya. Aku baru ingat bahwa tuan rumah ini adalah teman seangkatan dengan kang Yudi, dua tahun di atas angkatanku. Kami ngobrol sebentar dan kemudian merekapun menghilang dalam kerumunan dan suara bising penyanyi organ tunggal yang menyanyikan lagu Alamat Palsu-nya Ayu Tingting: “ke manaaa&#8230;ke manaaa&#8230;ke manaa!”</p>
<p>“Waahh&#8230;Mamah beruntung sekali bisa ketemu beberapa  teman lama ya&#8230; Ayo, kita cari teman Papah  barangkali bisa ketemu juga barang satu atau dua orang&#8230;,” suamiku beranjak dari duduknya dan aku mengikuti sambil berpegangan tangan takut hilang dalam keramaian di berbagai sudut gedung. Di dekat meja es krim seseorang memanggil nama suamiku, ternyata dia adalah seorang temannya di STM dulu. Mereka sama-sama gembira mengobrol sambil bercanda. Aku hanya sesekali nimbrung obrolannya sambil makan eskrim.</p>
<p>Sebenarnya alumni SMANSA sepertiku nasibnya lebih baik daripada mereka yang lulusan STM. Karena alumni SMA sudah banyak yang menjadi “orang” dan berpikiran maju dibandingkan mereka yang alumni STM, jadi internetlah yang menjadi alat komunikasi yang paling efektif untuk menemukan teman yang hilang, khususnya di email dan Facebook. Dengan mudah kami saling bertukar informasi untuk mengabarkan berita suka maupun duka, atau tentang kabar teman idola dulu. Dengan cara itulah kami lebih sering mengadakan acara reuni dan membina kekompakan kembali di antara teman-teman.</p>
<p>Sedangkan bagi teman-teman suamiku yang lulusan STM, internet masih dianggap barang eksklusif yang hanya dimiliki oleh orang-orang mampu. Karena lulusan STM zaman itu tidak banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi, karena pada dasarnya mereka masuk ke sekolah itu dengan tujuan untuk mendapatkan keterampilan agar setelah lulus bisa bekerja. Belum lagi bangunan sekolah mereka yang dulu sudah tidak ada. Malah sudah berganti nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan, yang beralamat di sebuah tempat lain dengan manajemen yang berbeda pula, jadi, di manakah tempat pijakan kenangan mereka yang indah itu?</p>
<p>Sebuah sekolah atau kampus, bukan hanya sebuah wadah tempat mematangkan harapan dan cita-cita para siswa, melainkan juga tempat tumbuhnya kenangan indah masa remaja. Masa-masa penuh cinta, idealisme, dan semangat tinggi. Di sinilah kita pancangkan identitas diri di antara teman, sahabat dan para guru yang kita percayai. Kemudian pada masa-masa jaya atau menua, kita merindukan kembali kenangan-kenangan itu  untuk mengembalikan motivasi atau sebagai alat ukur untuk mempertanyakan apakah semua cita-cita dan idealisme masa muda itu sudah tercapai, ataukah arah kita melenceng dari arah semula? Apakah pribadi kita lebih baik dari masa muda? Ataukah sebaliknya, karena pengalaman bertambah, maka bertambah hitam pula catatan perilaku kita? Ini adalah renungan dari menziarahi kenangan&#8230;</p>
<div>
<p> “Ke mana&#8230;.ke mana&#8230;ke manaaaaa. Ku harus mencari ke manaa?” Ayu Tingting ikut mencari alamat kenangan para alumni yang sedang merasa kehilangan jejak&#8230;</p>
</div>
<p>Catatan akhir tahun 2011</p>
<p>By: Riga</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/442/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=442&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/12/27/pulang-menziarahi-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pilihan Hidup</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/12/10/pilihan-hidup/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/12/10/pilihan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 16:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kata-kata bijak/ Kata Mutiara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[*** Menyerahkan suatu urusan kepada ahlinya adalah suatu keputusan yang adil dan tepat, dan harus diakui dengan segala kerendahan hati bahwa kita selalu memiliki kekurangan dalam banyak hal&#8230;. (Riga) *** Dada yang lapang adalah lahan yang tepat untuk menanam kesabaran. Kebaikan akan menjadi lahan subur tempat menumbuhkan cinta kasih. Sebaliknya, cinta akan menjadi motivasi utama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=439&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h6><strong>*** Menyerahkan suatu urusan kepada ahlinya adalah suatu keputusan yang adil dan tepat, dan harus diakui dengan segala kerendahan hati bahwa kita selalu memiliki kekurangan dalam banyak hal&#8230;. (Riga)</strong></h6>
<h6><strong></strong>*** Dada yang lapang adalah lahan yang tepat untuk menanam kesabaran. Kebaikan akan menjadi lahan subur tempat menumbuhkan cinta kasih. Sebaliknya, cinta akan menjadi motivasi utama untuk berbuat baik..</h6>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/439/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/439/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/439/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=439&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/12/10/pilihan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Ruang Tunggu</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/12/04/di-ruang-tunggu/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/12/04/di-ruang-tunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 13:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/2011/12/04/di-ruang-tunggu/</guid>
		<description><![CDATA[Tidakkah kau lihat, waktu telah menatah jejak di tubuh renta garis-garis tebal berwarna gelap, tulang-tulang retak  perih meratap di pembaringan ini tubuhku menunggu sesuatu yang entah kubuat jalinan asa meski setipis rambut yang terbelah &#160; Tak henti kubangun pilar-pilar malam yang tak pejam Merapalkan syair-syair pujian hingga bulan memucat di belahan barat Akan kau temukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=433&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://garini.files.wordpress.com/2011/12/bangku-taman.jpg"><img class="size-full wp-image" src="http://garini.files.wordpress.com/2011/12/bangku-taman.jpg?w=249" alt="Image" /></a></p>
<p>Tidakkah kau lihat, waktu telah menatah jejak di tubuh renta</p>
<p>garis-garis tebal berwarna gelap, tulang-tulang retak  perih meratap</p>
<p>di pembaringan ini tubuhku menunggu sesuatu yang entah</p>
<p>kubuat jalinan asa meski setipis rambut yang terbelah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tak henti kubangun pilar-pilar malam yang tak pejam</p>
<p>Merapalkan syair-syair pujian hingga bulan memucat di belahan barat</p>
<p>Akan kau temukan sisa pagi yang masih kepulkan kabut rindu</p>
<p>Ngilu…, melenakan ruas-ruas sendi  dalam gigil beku</p>
<p>Sementara lonceng kematian bersuara nyaring</p>
<p>janjikan kebebasan dari segala belenggu dan derita</p>
<p>dalam waktu dekat, lebih dekat dari urat leherku</p>
<p>harus kupenuhi janji tepat pada saat aku lelah membaca buku kehidupanku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akankah kelak kutuai istirah yang damai</p>
<p>Di mana kidung-kidung kerinduan mengalun di bibir yang basah dengan dzikir</p>
<p>Ataukah masih  akan kau tikamkan kepongahan  pada luka-luka di jiwa yang fakir</p>
<p>Seperti di masa tetirah yang hanya berteman rintih dan lenguh ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aaarrgghh&#8230;.!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum maut merenggut ruhku yang bersayap kepasrahan,</p>
<p>Masih layakkah kuminta ampunan atas  dosaku, Tuhan?</p>
<p>Di senggal nafas terakhir, harus kuakui bahwa kepongahan anakku</p>
<p>Adalah warisanku…</p>
<p>………………………………………</p>
<p>By Riga</p>
<p>Bandung, 4 Desember 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=433&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/12/04/di-ruang-tunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garini.files.wordpress.com/2011/12/bangku-taman.jpg?w=249" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Waktu</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/11/01/membaca-waktu/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/11/01/membaca-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 15:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Waktu  seperti sebuah buku tebal Yang belum selesai dibaca Mengeja detik ke detik berupa lembaran kisah Yang sebentar kemudian menjadi sejarah &#160; Setiap episode meninggalkan kenangan yang menggetarkan Luka dan airmata mengubah dirinya menjadi ketegaran Setelah mengkristal pada titik penerimaan yang paling hakiki Dalam palung do’a yang paling sunyi &#160; Sambil membaca waktu, kita menunggu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=424&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Waktu  seperti sebuah buku tebal</strong></em></p>
<p><em><strong>Yang belum selesai dibaca</strong></em></p>
<p><em><strong>Mengeja detik ke detik berupa lembaran kisah</strong></em></p>
<p><em><strong>Yang sebentar kemudian menjadi sejarah</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Setiap episode meninggalkan kenangan yang menggetarkan</strong></em></p>
<p><em><strong>Luka dan airmata mengubah dirinya menjadi ketegaran</strong></em></p>
<p><em><strong>Setelah mengkristal pada titik penerimaan yang paling hakiki</strong></em></p>
<p><em><strong>Dalam palung do’a yang paling sunyi</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Sambil membaca waktu, kita menunggu</strong></em></p>
<p><em><strong>Sedang jemari kita tetap bekerja</strong></em></p>
<p><em><strong>Memasang benang-benang harapan pada sebuah kumparan</strong></em></p>
<p><em><strong>Untuk memutar pagi menuju pagi lagi di lain hari</strong></em></p>
<p><em><strong>Dan tanpa disadari ketergesaan telah merampas hati</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Membaca waktu adalah menakar usia di cermin kaca</strong></em></p>
<p><em><strong>Seberapa banyak jejak telah menjadi sajak</strong></em></p>
<p><em><strong>Yang menghidupkan jiwa dengan sebesar-besarnya cinta</strong></em></p>
<p><em><strong>Sebelum gundukan tanah merah menutup cerita kita</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Karena dengan membaca waktu</strong></em></p>
<p><em><strong>Kita tumbuh menjadi manusia utuh</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>By: Riga</p>
<p>Bandung, akhir Oktober, 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/424/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=424&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/11/01/membaca-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERSELINGKUHAN MALAM</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/08/19/perselingkuhan-malam/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/08/19/perselingkuhan-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 02:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=414</guid>
		<description><![CDATA[Secangkir kopi aroma robusta Selalu mengantarku ke alamat rasa yang sama Sebuah ruang tak bernama Yang dindingnya selalu bergetar Kala kusebut namamu Hanya namamu Di panasnya ada letupan asmara Di manisnya ada kenangan pekat Mengendap getir di palung terdalam Dan aku tersesat tak bisa kembali ke langkah awal Pun tak bergerak ke depan Bahkan aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=414&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secangkir kopi aroma robusta<br />
Selalu mengantarku ke alamat rasa yang sama<br />
Sebuah ruang tak bernama<br />
Yang dindingnya selalu bergetar<br />
Kala kusebut namamu<br />
Hanya namamu</p>
<p>Di panasnya ada letupan asmara<br />
Di manisnya ada kenangan pekat<br />
Mengendap getir di palung terdalam<br />
Dan aku tersesat tak bisa kembali ke langkah awal<br />
Pun tak bergerak ke depan</p>
<p>Bahkan aku telah jatuh cinta<br />
Kepada malam yang berbaju hitam<br />
Bibirnya selalu membisikkan balada kerinduan<br />
Ranum kata-kata serupa bunga mekar<br />
Tiap semilirnya menebar aroma magis<br />
Bagai mantra yang menghisapku ke dalam gelombang persekutuan rahasia<br />
Sedang di sakunya tersimpan sebuah misteri<br />
Yang tak terbaca oleh ruang dan waktu</p>
<p>O..malam, kekasihku<br />
Kau jatuhkan satu bintang sinari kamarku<br />
Sedang rembulan telah lebih dulu purnama di hatiku<br />
Aku menyala bermandi cahaya…</p>
<p>*** by Riga 16 Agustus 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/414/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/414/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/414/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=414&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/08/19/perselingkuhan-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(ziarah rini garini darsodo) kepulangan ketiga</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/08/09/ziarah-rini-garini-darsodo-kepulangan-ketiga/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/08/09/ziarah-rini-garini-darsodo-kepulangan-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 12:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan oleh: Hudan Hidayat &#160; *Bunda, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230;. menapaki kembali jejak yang dulu kusinggahi serumpun ilalang tebal meratapi sisa kenangan tawa dan tangis terukir di sini, dua batu nisan termenung dalam kesunyian menikam ke ulu hatiku &#160; Ayah, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230; Engkau tenang terdiam disiram do’a dan kembang Seperti aku dulu terdiam saat kau sirami wejangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=416&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pembahasan oleh: Hudan Hidayat</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*Bunda, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>menapaki kembali jejak yang dulu kusinggahi</p>
<p>serumpun ilalang tebal meratapi sisa kenangan</p>
<p>tawa dan tangis terukir di sini,</p>
<p>dua batu nisan termenung dalam kesunyian</p>
<p>menikam ke ulu hatiku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ayah, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Engkau tenang terdiam disiram do’a dan kembang</p>
<p>Seperti aku dulu terdiam saat kau sirami wejangan</p>
<p>Aku meresapi mutiara kehidupan</p>
<p>Engkau meresapi aroma keabadian..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>By Riga</p>
<p>Bandung, 9 Agustus 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>**Aku pulang, Bunda</p>
<p>menapak kembali jejak yang dulu kusinggahi</p>
<p>meratapi serumpun ilalang tebal sisa kenangan</p>
<p>di sini ada tawa dan air mata, di sana</p>
<p>dua batu termenung dalam nisan sunyi</p>
<p>menikam ke ulu hati</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku pulang, o Ayah, aku pulang</p>
<p>Engkau tenang terdiam, disiram do’a dan kembang</p>
<p>Seperti aku dulu terdiam saat kau sirami wejangan</p>
<p>Aku meresapi mutiara kehidupan</p>
<p>Engkau meresapi aroma keabadian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>By Riga</p>
<p>Bandung, 9 Agustus 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***menarik membentukkan puisi rini dalam format prosa..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>****tak ada lambaian kematian di usia belia &#8211; begitukah? bahwa tarikan mati melampaui hari hari dari hidup kita ini. puluhan tahun silam keponakan lelaki saya, tak hendak berkata atau, kalau berkata, adalah laku khas anak yang bergerak ke remaja masa kini: mereka (seakan) lebih penuh perhatian kepada teman temannya ketimbang, kepada keluarganya sendiri. ada apa? boleh kita menghitung masa remaja kita sendiri: ada gerak jiwa apa, di sturuktur yang seolah pengap dalam badan. apakah yang hendak diledakkan dari sana? apakah bentuk yang paling cocok untuk bom jiwa itu? motor cb 100? naik lagi ke usia dewasa adalah laku laku lost generation?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bisa apa saja. guru boleh tak datang mengajari kita cara membentuk puisi. tapi alur nasib yang menarik kita ke arah dunia syair, tak kuasa menahan apa yang hendak ditahan orang. tapi apa saja yang telah ditahannya, tak suatu kuasa pula yang mampu merenggutkannya dari kita. inilah daerah paling musykil itu. daerah absurd karena kuasa demikian melimpah ruah di sana. tak tertahankan lagi, pun tak kuasa tembok berlin mencegah badai kuasa seperti itu, kalau memang tembok itu, pada akhirnya akan runtuh dan orang orang di sana, pada akhirnya saling memainkan kedipan mata kiri dan mata kanan. tapi kita lagi bicara kematian bukan rekonsiliasi politik dua negara satu bangsa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>saya melihat puisi itu di masa usia remaja keponakan saya itu. saya yakin itulah puisi, gaib dari kujur tubuhnya. gaib dari sebentuk senyumnya yang, aduh, kurasakan seakan hendak tenggelam. ada apa? mengapa sorot matamu begitu tak biasanya, wahai lelaki yang tak pernah bahagia dalam hidupmu ini &#8211; ayahnya ke mana?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>gelombang puisi datang dari lautan ombak, menggulung gulung anak anak dan mencemplungkan tubuh ringkih manusia masuk dalam palung. begitulah puisi gaib kalau sudah bekerja: pertandanya bisa apa saja &#8211; gelombang itu, palung itu, dan jam yang telah sampai tanpa suatu kuasa lagi mampu menahan laju detiknya. menggulung pula seisi jiwa jiwa dari rumah panggung. dia lelaki yang tak pernah meneteskan air mata, seumur hidup baru kali itu seakan hendak terjungkal dari tempatnya berdiri. titiklah air mata puisi itu. hanya setitik saja. setitik dari riwayat manusia yang punya rahang hati sekeras batu. masih kudengar ujar ujaran yang sampai kepadaku dulu itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>anakku</p>
<p>pergilah jauh</p>
<p>jangan kembali</p>
<p>walau harus makan batu</p>
<p>hanya itu cara menegakkan leher keluarga ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>mengapa relasi relasional keluarga kerap membuat kita hampa? karena di sekujur manusia ada puisi? karena masing masing hati bergerak seolah puisi yang tak teraba dalam jiwa pun dari jiwa di badan kita sendiri? kita tak pernah tahu. relasi kerap menjadi cinta yang melambai dari jauh. seolah kita telah didatangi cinta kematian yang melambai dari balik kubur kita sendiri. seakan tanah tanah di seputar lubang itu bangkit, berjalan menjemput tiap langkah kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>inilah aku</p>
<p>injaklah masuk</p>
<p>ke kuburmu sendiri</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>siapa yang berkata? kata chairil. kawanku hanya rangka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>di karet, o, di karet</p>
<p>daerahku yang akan datang</p>
<p>sampai juga deru angin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>rini tak membawa nama pada dunia makam di sana.</p>
<p>apa yang dibawa oleh rini? puisi bisa dibaca melampaui waktu penyairnya saat menulis puisi. apa yang ada di saat yang kita rambati dengan tenaga aneh imajinasi itu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ada rini di sana, dengan sebuah puisinya pula: tubuhnya sendiri, yang kini membalik dari gerak puisinya: bukan kedua ayah ibu yang kini kita tatapi, tapi justru para penziarah yang ramai ramai berdiri terjuntai juntai di tepi makam kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kepada siapa kita berkata saat itu? bunda, aku pulang; ayah, oh ayah untuk siapakah suaraku ini lagi sebenarnya? &#8211; ayah di mana? tergeletak jauh dari anak anaknya di sebuah daerah entah di luar negeri sana. ibu di mana? kita berdua termenung menung melihat tubuh ibu yang pelan pelan, diturunkan, yang pelan pelan, tangan kita juga menggesernya ke arah tepi, sebuah liang lahat yang tak terlihat dari atas itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>maka bergeraklah dua metapor rini kini, bukan ke bunda dan ayahnya lagi, dalam keadaan demikian itu, tapi ke ucapan: tuhan lihat kami datang, tuhan. kami datang seperti janjimu dengan kami kami ini. mati oleh peluru, mati oleh gigi dicungkil peniti lalu titanus, tak lagi penting, saat diri di liang lahat itu, menghadap wajah tuhan yang, oh, tuhan, kami telah kehabisan kata untuk menyebutkan nama dirimu itu. kukenang kata kata kawanku penyair rini: engkau terdiam disiram doa dan kembang, itulah wajah kami kini tuhan. dan kau bagaimana saat kami telah terbaring secara demikian? cambuk apimu dari malaikat malaikatmu, oh tuhan, dapatkah diganti oleh puisi kawanku itu saja: Engkau tenang terdiam disiram do’a dan kembang. marilah tuhan kami, hanya beda tipis, di antara dua kata: tenang terdiam, dan terdiam tanpa tenangnya lagi.</p>
<p>9 Agustus 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=416&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/08/09/ziarah-rini-garini-darsodo-kepulangan-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ZIARAH</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/08/09/ziarah/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/08/09/ziarah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 11:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Bunda, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230;. menapaki kembali jejak yang dulu kusinggahi serumpun ilalang tebal meratapi sisa kenangan tawa dan tangis terukir di sini, dua batu nisan termenung dalam kesunyian menikam ke ulu hatiku Ayah, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230; Engkau tenang terdiam disiram do’a dan kembang Seperti aku dulu terdiam saat kau sirami wejangan Aku meresapi mutiara kehidupan Engkau meresapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=412&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bunda, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>menapaki kembali jejak yang dulu kusinggahi</p>
<p>serumpun ilalang tebal meratapi sisa kenangan</p>
<p>tawa dan tangis terukir di sini,</p>
<p>dua batu nisan termenung dalam kesunyian</p>
<p>menikam ke ulu hatiku</p>
<p>Ayah, aku pulang&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Engkau tenang terdiam disiram do’a dan kembang</p>
<p>Seperti aku dulu terdiam saat kau sirami wejangan</p>
<p>Aku meresapi mutiara kehidupan</p>
<p>Engkau meresapi aroma keabadian..</p>
<p>By Riga</p>
<p>Bandung, 9 Agustus 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=412&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/08/09/ziarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>On My Birthday (poems)</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/07/27/on-my-birthday-poems/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/07/27/on-my-birthday-poems/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 15:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Do&#8217;a-do&#8217;a yang tercurah pada hari kelahiran menjadi kebahagiaan yang tak terhingga. Apalagi hadiah khusus dari para sahabat sebagai tanda sayang dan &#8216;merasa sangat dekat&#8217;&#8230;sebagai rasa yang keluar dari hati sanubari, menjadi hadiah yang sangat istimewa&#8230;Terimakasiiih Mas Arif Gumantia, Mas Imron Tohari dan Padhika Acharya. Kusimpan hadiah dari kalian di sini&#8230;di Oase Kalbuku.:) 1.Arif Gumantia: Mengalir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=409&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Do&#8217;a-do&#8217;a yang tercurah pada hari kelahiran menjadi kebahagiaan yang tak terhingga. Apalagi hadiah khusus dari para sahabat sebagai tanda sayang dan &#8216;merasa sangat dekat&#8217;&#8230;sebagai rasa yang keluar dari hati sanubari, menjadi hadiah yang sangat istimewa&#8230;Terimakasiiih Mas Arif Gumantia, Mas Imron Tohari dan Padhika Acharya. Kusimpan hadiah dari kalian di sini&#8230;di Oase Kalbuku.:)</p>
<div id="attachment_410" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://garini.files.wordpress.com/2011/07/coffeebean_300-red-roses.jpg"><img class="size-full wp-image-410" title="BEAUTIFUL RED ROSES" src="http://garini.files.wordpress.com/2011/07/coffeebean_300-red-roses.jpg?w=500" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Beautiful red roses from Google</p></div>
<p><strong>1.Arif Gumantia:</strong></p>
<p><strong>Mengalir Bersama Bahtera Waktu</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Hidup adalah memasang harapan pada jarum waktu</em></strong></p>
<p><strong><em>Yang memintal hari yang segera berlalu</em></strong></p>
<p><strong><em>Dengan sisa kenangan yang menelusup dalam relung hati</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Dirimu adalah sebuah rumah</em></strong></p>
<p><strong><em>Dengan pintu dan jendela yang terbuka</em></strong></p>
<p><strong><em>Selalu ada sebuah pintu yang menuju ruang kosong bernama misteri</em></strong></p>
<p><strong><em>Meski ada titik-titik cahaya</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Usia adalah embun kehidupan</em></strong></p>
<p><strong><em>Menetes ke dalam hati dan lenyap</em></strong></p>
<p><strong><em>Tapi kesegarannya terasa,</em></strong></p>
<p><strong><em>Selalu terasa&#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em>Dalam setiap jejak yang akan kau pijak</em></strong></p>
<p><strong><em>Dalam dan berkesan</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Dan di sekelilingmu banyak butiran cinta</em></strong></p>
<p><strong><em>Yang selalu mengetuk pintumu</em></strong></p>
<p><strong><em>Bertaut dalam nafas rindumu</em></strong></p>
<p><strong><em>Hiruplah dan jalani bersama dalam menggulung waktu..</em></strong></p>
<p>**********</p>
<p><strong>2. Imron Tohari</strong></p>
<h6 align="left">‎<em>:/<a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1699866796"><strong>Rini Garini Darsodo</strong></a><strong></strong></em></h6>
<p>kupilah beratus puisi untukmu<br />
tapi tak kutemu yang sebanding indahnya denganmu<br />
karena aku yakin<br />
di hari jadimu ini<br />
engkau puisi itu sendiri<br />
bagimu<br />
dan keluargamu</p>
<p><em> salam lifespirit (25 juli2011)</em></p>
<p><em>************</em></p>
<p><em>3. <strong>Padhika Acharya</strong></em></p>
<h6 align="left"><em>bagai kepak sayap burung pulang</em><br />
<em> perkasa di selasar bintang,</em><br />
<em> laksana camar menjelajah riang</em><br />
<em>selami laut penuh tawa</em></h6>
<p><em>waktupun betah berlabuh: menunggumu di bulan juli</em></p>
<p><em>kuharap, engkau belumlah petang merah jingga di detik menit</em><br />
<em> yang hanya duduk membatu menatap</em><br />
<em> dentang usia</em><br />
<em> engkau sejatinya adalah pelukis masa dan kisah</em></p>
<p><em>bagai senyum berpendar dengan beribu kunang kunang</em><br />
<em> hingga malam tak lagi gulita</em></p>
<p><em>selamat ulang tahun sahabat!</em></p>
<p><em>25 Juli 2011</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/409/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=409&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/07/27/on-my-birthday-poems/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://garini.files.wordpress.com/2011/07/coffeebean_300-red-roses.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BEAUTIFUL RED ROSES</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Do&#8217;a Yakinku (kiriman dari Didi Ruswandi)</title>
		<link>http://garini.wordpress.com/2011/06/15/doa-yakinku-kiriman-dari-didi-ruswandi/</link>
		<comments>http://garini.wordpress.com/2011/06/15/doa-yakinku-kiriman-dari-didi-ruswandi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 11:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>garini</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://garini.wordpress.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[DOA YAKINKU Terhenti langkahku Diayun bimbang dihempas ragu Bukankah Allah berjanji Barangsiapa berdoa akan dikabulkan? Tapi yang kutemui doa-doaku adalah arsip terserak Lembutnya malam menyelimuti sukmaku Tersentuh nurani dalam bisik perlahan yang tak terindra telinga Sucikan jiwa tuk menapaki jalan takwa Oh ternyata firman-Mu adalah suara hati yang terdengar dalam nafs mutmainah lirih…..rintih Oh ternyata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=405&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DOA YAKINKU</p>
<p>Terhenti langkahku<br />
Diayun bimbang dihempas ragu<br />
Bukankah Allah berjanji<br />
Barangsiapa berdoa akan dikabulkan?<br />
Tapi yang kutemui doa-doaku adalah arsip terserak</p>
<p>Lembutnya malam menyelimuti sukmaku<br />
Tersentuh nurani dalam bisik perlahan yang tak terindra telinga<br />
Sucikan jiwa tuk menapaki jalan takwa<br />
Oh ternyata firman-Mu adalah suara hati<br />
yang terdengar dalam nafs mutmainah<br />
lirih…..rintih<br />
Oh ternyata Pesan-Mu memantul di telaga hati<br />
yang telihat dalam mata batin tawadhu<br />
bersih….jernih<br />
Kini telah terbuka hijabku<br />
Bukan inginku yang Kau kabul<br />
Namun yakinku yang Kau perkenan</p>
<p>Comment by: Didi Ruswandi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/garini.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/garini.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/garini.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/garini.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/garini.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/garini.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/garini.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/garini.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/garini.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/garini.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/garini.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/garini.wordpress.com/405/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/garini.wordpress.com/405/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/garini.wordpress.com/405/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=garini.wordpress.com&amp;blog=6193049&amp;post=405&amp;subd=garini&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://garini.wordpress.com/2011/06/15/doa-yakinku-kiriman-dari-didi-ruswandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/53cdaf139a9f4d7a8e0fb592c369ccaa?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">garini</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
